Minggu, 31 Januari 2016

Abu Abdullah Muhammad bin Battutah/Ibnu Batutah

bu Abdullah Muhammad bin Battutah (bahasa Arab: أبوعبدﷲ محمد إبن بطوطة, Abu Abdullah Muhammad ibn Bathuthah) atau juga dieja Ibnu Batutah (24 Februari 1304 - 1368 atau 1377) adalah seorang pengembara Berber Maroko.
Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.
Hampir semua yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Batutah datang dari dirinya sendiri. Meskipun dia mengklaim bahwa hal-hal yang diceritakannya adalah apa yang dia lihat atau dia alami, kita tak bisa tahu kebenaran dari cerita tersebut.
Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji—ziarah ke Mekah. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern).
Perjalanannya ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk, yang relatif aman. Jalur yang umu digunakan menuju Mekah ada tiga, dan Ibnu Batutah memilih jalur yang paling jarang ditempuh: pengembaraan menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di 'Aydhad. Tetapi, ketika mendekati kota tersebut, ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian lokal.
Kembail ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua, ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan alasan keterangan/anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama, bahwa ia hanya akan sampai di Mekah jika telah melalui Suriah. Keuntungan lain ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang jalur tersebut -- Hebron, Yerusalem, dan Betlehem, misalnya—dan bahwa penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan para peziarah.
Setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Muhammad. Empat hari kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Setelah melaksanakan rangkaian ritual haji, sebagai hasil renungannya, dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya adalah Il-Khanate (sekarang Iraq dan Iran.
Gambaran Ibnu Batutah secara interaktif
Dengan cara bergabung dengan suatu rombongan, dia melintasi perbatasan menuju Mesopotamia dan mengunjungi najaf, tempat dimakamkannya khalifah keempat Ali. Dari sana, dia melanjutkan ke Basrah, lalu Isfahan, yang hanya beberapa dekade jaraknya dengan penghancuran oleh Timur. Kemudian Shiraz dan Baghdad (Baghdad belum lama diserang habis-habisan oleh Hulagu Khan).
Di sana ia bertemu Abu Sa'id, pemimpin terakhir Il-Khanate. Ibnu Batutah untuk sementara mengembara bersama rombongan penguasa, kemudian berbelok ke utara menuju Tabriz di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju Mongol, yang merupakan pusat perdagangan penting.
Setelah perjalanan ini, Ibnu Batutah kembali ke Mekah untuk haji kedua, dan tinggal selama setahun sebelum kemudian menjalani pengembaraan kedua melalui Laut Merah dan pantai Afrika Timur. Persinggahan pertamanya adalah Aden, dengan tujuan untuk berniaga menuju Semenanjung Arab dari sekitar Samudera Indonesia. Akan tetapi, sebelum itu, ia memutuskan untuk melakukan petualangan terakhir dan mempersiapkan suatu perjalanan sepanjang pantai Afrika.
Menghabiskan sekitar seminggu di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombasa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti perubahan arah angin, dia bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. Setelah menyelesaikan petualangannya, sebelum menetap, ia berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekah lagi.
Setelah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kesultanan Delhi. Untuk keperluan bahasa, dia mencari penterjemah di Anatolia. Kemudian di bawah kendali Turki Saljuk, ia bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai selatan Turki sekarang. Dari sini ia berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.
Setelah menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa, di Crimea, dan memasuki tanah Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

Zinadine Zidane, salah satu pesepakbola orang Barbar yang berimigrasi ke Prancis.

Zinadine Zidane, salah satu pesepakbola orang Barbar yang berimigrasi ke Prancis.. di balik nama Barbar. Mungkin kita tidak pernah tahu bahwa Tariq bin Ziyad, salah satu prajurit paling legendaris dalam sejarah Islam adalah seorang Barbar. Dia yang memimpin pasukan Islam saat menaklukkan Andalusia (Spanyol) pada tahun 711 Masehi dan namanya hingga kini diabadikan sebagai nama sebuah selat yang memisahkan Afrika Utara dengan Eropa, Giblartar (Jabal Thariq). Mungkin kita juga tidak pernah tahu bahwa Ibnu Batutah, seorang pengembara muslim terkemuka yang dicatat oleh sejarah sebagai pengembara terbesar pra-modern, adalah orang Barbar tulen. Bahkan, Zinadine Zidane, salah satu pesepakbola terbaik sepanjang masa, adalah orang Barbar yang berimigrasi ke Prancis.
Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang apa itu “Barbar” sangatlah dibutuhkan bagi para pengkaji sejarah Islam, terutama yang menekuni kajian Timur Tengah. Dengan pemahaman ini, diharapkan spektrum pemikiran kita akan lebih luas dan tidak hanya fokus kepada Arabisme saja.
2. Definisi Barbar
Secara etimologi, para sejarawan mencatat bahwa kata “Barbar” (Berber) baru dikenal pada masa akhir Kekaisaran Romawi. Oleh karena itu, relevansi penggunaan kata ini untuk periode-periode sebelumnya tidak diterima oleh para sejarawan purbakala. Untuk memahami arti kata ini, biasanya dipakai istilah “Amazigh” (jamak: Imazighen) yang merupakan nama yang sering dipakai oleh orang-orang Barbar untuk menyebut diri mereka sendiri. Di dalam catatan Leo Africanus, “Amazigh” berarti “orang bebas” (free man). Namun, di dalam bahasa Barbar modern ternyata tidak ditemukan akar kata M-Z-Gh yang berarti “bebas”. Mungkin yang lebih tepat adalah kata “Amajegh” dalam dialeg suku Tuareg yang berarti “orang mulia” atau “bangsawan” (noble man).
Secara umum, para ilmuwan mendefinisikan “Barbar” sebagai penduduk asli yang mendiami wilayah Afrika Utara di sebelah barat lembah sungai Nil. Mereka tersebar dari pantai Atlantik di barat sampai oase Siwa (Mesir) di timur, serta dari pantai Mediterania di utara sampai sungai Niger di selatan. Di masa sekarang, mayoritas orang Barbar adalah penduduk Maroko, Aljazair, Libya, dan Tunisia. Sebagian kecil ada yang menjadi penduduk Mesir, Mali, Mauritania, Burkina Faso, dan Nigeria. Sejarah mencatat terdapat beberapa sebutan lain untuk Barbar. Orang Mesir menyebut mereka Meshwesh. Orang Yunani kuno menyebut mereka Libyans. Orang Romawi menyebut mereka Numidians dan Mauri. Orang Eropa abad Pertengahan menyebut mereka Moors.
3. Ras, Bahasa, dan Agama Orang Barbar
Barbar termasuk dalam rumpun Kaukasoid. Secara fisik, orang Barbar menyerupai sub-ras Mediterania atau Kaukasoid-Eropa Selatan. Namun, berbeda dengan orang kulit putih Eropa Selatan, orang Barbar memiliki tubuh lebih tinggi serta rambut, jenggot dan alis yang lebih pirang. Ibnu Khaldun menggambarkan karakter orang Barbar sebagai manusia pemberani, kuat, hebat, dan memiliki solidaritas tinggi. Ibnu Khaldun menambahkan bahwa orang Barbar benar-benar manusia sejati yang sederajat dengan orang Arab, Persia, Yunani, dan Romawi.
Bahasa asli orang Barbar yang dikenal sebagai bahasa Tamazigh diduga merupakan cabang dari bahasa Afro-Asiatic yang merupakan kelanjutan dari bahasa Proto-Afro-Asiatic. Sebagian ahli berpendapat bahwa bahasa Barbar termasuk dalam rumpun bahasa Hamitic. Namun, sebagian besar ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa Barbar lebih mirip dengan bahasa Semitic dan Chadic. Pengguna bahasa Tamazigh hingga saat ini diperkirakan antara 30-40 juta orang. Hal ini dikarenakan sebagian besar orang Barbar memilih bahasa Arab sebagai bahasa utamanya. Sehingga, pengguna bahasa Barbar yang benar-benar masih murni hanya bisa ditemukan di daerah pedalaman, pegunungan, dan gurun pasir.
Bahasa Barbar sendiri memiliki beberapa dialek yang berbeda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kelompok etnik yang tersebar di beberapa wilayah Afrika Utara, yaitu antara lain:




BANGSA BARBAR

di balik nama Barbar. Mungkin kita tidak pernah tahu bahwa Tariq bin Ziyad, salah satu prajurit paling legendaris dalam sejarah Islam adalah seorang Barbar. Dia yang memimpin pasukan Islam saat menaklukkan Andalusia (Spanyol) pada tahun 711 Masehi dan namanya hingga kini diabadikan sebagai nama sebuah selat yang memisahkan Afrika Utara dengan Eropa, Giblartar (Jabal Thariq). Mungkin kita juga tidak pernah tahu bahwa Ibnu Batutah, seorang pengembara muslim terkemuka yang dicatat oleh sejarah sebagai pengembara terbesar pra-modern, adalah orang Barbar tulen. Bahkan, Zinadine Zidane, salah satu pesepakbola terbaik sepanjang masa, adalah orang Barbar yang berimigrasi ke Prancis.
Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang apa itu “Barbar” sangatlah dibutuhkan bagi para pengkaji sejarah Islam, terutama yang menekuni kajian Timur Tengah. Dengan pemahaman ini, diharapkan spektrum pemikiran kita akan lebih luas dan tidak hanya fokus kepada Arabisme saja.
2. Definisi Barbar
Secara etimologi, para sejarawan mencatat bahwa kata “Barbar” (Berber) baru dikenal pada masa akhir Kekaisaran Romawi. Oleh karena itu, relevansi penggunaan kata ini untuk periode-periode sebelumnya tidak diterima oleh para sejarawan purbakala. Untuk memahami arti kata ini, biasanya dipakai istilah “Amazigh” (jamak: Imazighen) yang merupakan nama yang sering dipakai oleh orang-orang Barbar untuk menyebut diri mereka sendiri. Di dalam catatan Leo Africanus, “Amazigh” berarti “orang bebas” (free man). Namun, di dalam bahasa Barbar modern ternyata tidak ditemukan akar kata M-Z-Gh yang berarti “bebas”. Mungkin yang lebih tepat adalah kata “Amajegh” dalam dialeg suku Tuareg yang berarti “orang mulia” atau “bangsawan” (noble man).
Secara umum, para ilmuwan mendefinisikan “Barbar” sebagai penduduk asli yang mendiami wilayah Afrika Utara di sebelah barat lembah sungai Nil. Mereka tersebar dari pantai Atlantik di barat sampai oase Siwa (Mesir) di timur, serta dari pantai Mediterania di utara sampai sungai Niger di selatan. Di masa sekarang, mayoritas orang Barbar adalah penduduk Maroko, Aljazair, Libya, dan Tunisia. Sebagian kecil ada yang menjadi penduduk Mesir, Mali, Mauritania, Burkina Faso, dan Nigeria. Sejarah mencatat terdapat beberapa sebutan lain untuk Barbar. Orang Mesir menyebut mereka Meshwesh. Orang Yunani kuno menyebut mereka Libyans. Orang Romawi menyebut mereka Numidians dan Mauri. Orang Eropa abad Pertengahan menyebut mereka Moors.
3. Ras, Bahasa, dan Agama Orang Barbar
Barbar termasuk dalam rumpun Kaukasoid. Secara fisik, orang Barbar menyerupai sub-ras Mediterania atau Kaukasoid-Eropa Selatan. Namun, berbeda dengan orang kulit putih Eropa Selatan, orang Barbar memiliki tubuh lebih tinggi serta rambut, jenggot dan alis yang lebih pirang. Ibnu Khaldun menggambarkan karakter orang Barbar sebagai manusia pemberani, kuat, hebat, dan memiliki solidaritas tinggi. Ibnu Khaldun menambahkan bahwa orang Barbar benar-benar manusia sejati yang sederajat dengan orang Arab, Persia, Yunani, dan Romawi.
Bahasa asli orang Barbar yang dikenal sebagai bahasa Tamazigh diduga merupakan cabang dari bahasa Afro-Asiatic yang merupakan kelanjutan dari bahasa Proto-Afro-Asiatic. Sebagian ahli berpendapat bahwa bahasa Barbar termasuk dalam rumpun bahasa Hamitic. Namun, sebagian besar ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa Barbar lebih mirip dengan bahasa Semitic dan Chadic. Pengguna bahasa Tamazigh hingga saat ini diperkirakan antara 30-40 juta orang. Hal ini dikarenakan sebagian besar orang Barbar memilih bahasa Arab sebagai bahasa utamanya. Sehingga, pengguna bahasa Barbar yang benar-benar masih murni hanya bisa ditemukan di daerah pedalaman, pegunungan, dan gurun pasir.
Bahasa Barbar sendiri memiliki beberapa dialek yang berbeda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kelompok etnik yang tersebar di beberapa wilayah Afrika Utara, yaitu antara lain:
Sebelum mengenal Islam, orang Barbar berturut-turut memeluk agama Pagan kuno, Politheisme Yunani dan Romawi, serta Yahudi dan Nasrani. Saat ini, mayoritas orang Barbar beragama Islam Sunni. Namun, suku Mozabite beraliran Ibadite. Sampai tahun 1960-an masih ada beberapa klan Barbar di Maroko yang memeluk agama Yahudi. Namun, sejak terjadinya imigrasi besar-besaran ke Israel dan negara-negara Eropa dan Amerika, jumlah mereka saat ini bisa dihitung dengan jari. Sedangkan yang memeluk agama Katholik dan Protestan adalah sebagian klan Kabyle di Aljazair.
4. Perkembangan Masyarakat Barbar
Para sejarawan meyakini bahwa nenek moyang orang Barbar sudah menempati kawasan Afrika Utara sepanjang pantai Mediterania sejak zaman Paleolitikum. Namun, bukti eksistensinya baru bisa dilacak sejak 4000 SM, di mana mereka sudah mulai bercocok tanam dan beternak dan menjalin hubungan dagang dengan Mesir. Pada 2000 SM, peradaban mereka sudah mengenal logam (metal) yang didatangkan dari Mesir. Namun, sejak invansi yang dilakukan oleh Bangsa Funisia dan Yunani (814–146 SM), Romawi (146 SM–439 M), Vandals (439–534 M), dan Byzantium atau Romawi Timur (534–647 M), peradaban Barbar bergeser ke arah Selatan, yaitu di sekitar pegunungan Atlas dan gurun Sahara. Akibatnya, suku-suku Negro Sub-Sahara yang tempat tinggalnya direbut oleh orang Barbar terusir ke wilayah selatan Sungai Niger. Sebenarnya, masa inilah yang sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan budaya dan tradisi asli orang Barbar.
Pada masa ini, Bangsa Barbar menyusun pemerintahan sendiri yang tergabung dalam sebuah perserikatan yang oleh orang Romawi disebut Numidia. Pada perkembangan selanjutnya, Numidia menjadi salah satu provinsi otonom dari Kekaisaran Romawi. Dinasti penguasa Numidia membawahi beberapa klan yang diberi otoritas untuk memerintah di wilayahnya masing-masing. Setiap klan diatur secara mandiri oleh sebuah dewan yang terdiri dari keluarga yang berbeda, dengan satu anggota dari setiap keluarga duduk di dewan penasihat. Although a Berber tribe was close-knit within it, separate tribes did not cooperate easily with each other. Meskipun suku Barbar mempunyai tradisi kesukuan yang sangat kuat, namun mereka tidak mudah bekerjasama satu sama lain. Thus, wars occurred.Maka tidak mengherankan apabila sering terjadi perang antar suku. Ibnu Khaldun mencatat urut-urutan dinasti yang pernah berkuasa di Numidia, yaitu: Zirid, Banu Ifran, Maghrawa, Almoravid, Hammadid, Almohad, Merinid, Abdalwadid, Wattasid , Meknassa dan Hafsid.
Perubahan besar dimulai sejak abad ke-7 masehi, yaitu sejak kedatangan Agama Islam yang dibawa oleh orang Arab. Terjadilah proses Islamisasi dan Arabisasi yang diawali dengan pendirian kota Qayrawan oleh Uqbah bin Nafi’, Gubernur Mesir pada masa Bani Umayyah, sekitar tahun 670 M. Akar Islamisasi semakin kuat di masa pemerintahan Abul Muhajir Dinar yang berhasil mengajak pemimpin konfederasi Kristen Barbar yang bernama Kusaila masuk Islam. Namun, proses Islamisasi yang awalnya cukup lempang itu tidak berbanding lurus dengan stabilitas politik. Para pimpinan klan-klan Barbar tercatat beberapa kali melakukan pemberontakan terhadap penguasa Umayyah. Meskipun tidak dapat dibantah bahwa Bangsa Barbar memiliki jasa besar terhadap penaklukan dan Islamisasi Andalusia (Spanyol) di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Hal ini disebabkan oleh diskriminasi rasial dalam kebijakan-kebijakan politik yang menempatkan orang Barbar sebagai masyarakat kelas dua di bawah orang Arab. Puncaknya adalah revolusi Barbar yang dipimpin oleh kalangan Khawarij (Kharijite). Keberhasilan gerakan Khawarij ini pada gilirannya melahirkan beberapa kerajaan teokratis kecil yang senantiasa mengganggu stabilitas kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia dan Afrika Utara. Gejolak berkepanjangan ini baru bisa dihentikan pada abad ke-11, ketika Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir memerintahkan klan Banu Hilal untuk mengusir Dinasti Barbar Zirid dari daerah pemukiman utama orang Barbar. Sejak masa inilah proses Islamisasi dan Arabisasi orang Barbar berjalan mulus tanpa hambatan.
Kolonialisme Barat di Afrika Utara menyebabkan Bangsa Barbar semakin termarjinalkan. Maka, sejarah mencatat betapa orang Barbar begitu gigih berjuang melawan kolonialisme itu. Setelah perang Dunia II berakhir dan negara-negara kebangsaan (nation states) yang baru merdeka terbentuk, bangsa Barbar justru terpolarisasi ke dalam wilayah geografis masing-masing negara. Di saat yang sama, Negara-negara itu (selain Libya) menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa nasional. Hal ini berdampak positif, khususnya bagi kebangkitan kembali tradisi asli dan bahasa Barbar. Sebab selama masa kolonial, tradisi dan bahasa Barbar tidak memiliki ruang untuk berkembang. Dengan ditetapkannya bahasa Arab sebagai bahasa nasional dan Islam sebagai ideologi Negara, dengan sendirinya para penguasa dan pemegang kebijakan Negara-negara baru itu merasa perlu untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi suku-suku Barbar (yang jumlahnya besar) untuk mengembangkan diri dan meraih kemajuan.
Saat ini, di beberapa negara Afrika Utara suku-suku Barbar memiliki kesempatan dan kedudukan yang setara dengan etnis Arab. Di Aljazair, konstitusi Negara menetapkan identitas nasionalnya dengan nama “Negara Arab dan Barbar Muslim” dan bahasa Barbar menjadi bahasa nasional kedua setelah bahasa Arab. Di Maroko, bahasa Barbar menjadi salah satu bahasa wajib diajarkan (compulsory language) tanpa memperhatikan wilayah dan kesukuan.
Selain itu, beberapa figur Barbar bahkan berhasil mencapai posisi yang tinggi dalam hirarki sosial. Contoh yang paling sahih adalah mantan presiden Aljazair, Liamine Zeroual, dan mantan perdana menteri Maroko, Driss Jettou. Bahkan, di Aljazair, suku Barbar Chenoui mendominasi angkatan bersenjata. Namun sebaliknya dari para kaum laki-laki, sampai sejauh ini masih jarang wanita Barbar berhasil mencapai posisi yang tinggi. Tercatat hanya Khalida Toumi, seorang feminis dan aktivis Barbar militan, yang berhasil menjadi menteri komunikasi di pemerintahan Aljazair. Hal ini disebabkan oleh masih kuatnya sistem patriarki di sebagian besar negara Timur Tengah.
Satu hal yang juga patut diperhatikan adalah stereotipe orang Barbar sebagai bangsa pengembara (nomads). G.P. Murdock mencatat bahwa sejak 2000 SM, mata pencarian orang Barbar sudah beraneka ragam. Sebagian memang menjalankan gaya hidup nomaden, yaitu berburu dan meramu. Tapi sebagian yang lain sudah banyak yang bertani, beternak, dan berdagang. Di masa sekarang, orang Barbar sudah sedemikian rupa terlibat dalam hampir semua sektor ekonomi dan sosial. Bahkan, yang tetap bertahan dengan gaya hidup nomaden praktis hanya tiga sub-etnik saja, yaitu Tuareg, Zenaga, dan Chaoui.
Fenomena yang juga tak kalah menarik adalah diaspora orang Barbar ke beberapa negara maju di Eropa dan Amerika. Negara Eropa yang banyak menjadi tujuah “hijrah” orang Barbar adalah Prancis, Spanyol, Belanda, Belgia, dan Inggris. Sedangkan di Amerika, sebagian besar orang Barbar pindah kewarganegaraan menjadi warga Amerika Serikat dan Kanada. Tak sedikit di antara para imigran ini yang kemudian sukses di tanah air barunya. Contoh yang paling terkenal adalah Zinedine Zidane, pemain sepakbola yang membawa Prancis menjadi juara dunia dan Eropa. Zidane adalah keturunan suku Barbar Kabyle Aljazair.
5. Penutup
Tulisan singkat ini hanyalah pengantar awal untuk mengenal apa itu orang barbar. Untuk memperdalam dan mempelajari berbagai aspek yang lebih luas dari kehidupan orang Barbar diperlukan riset yang lebih serius dengan sarana yang memadai. Perlu disebutkan di sini bahwa kendala utama yang dihadapi oleh kami adalah sangat minimnya buku dan referensi lain seputar Berber People yang bisa kami akses. Beberapa buku pokok yang kami perlukan tidak bisa kami temukan di perpustakaan dan belum ada format e-book yang bisa kami akses lewat internet.
Namun demikian, melalui penelusuran kami yang serba terbatas ini kami bisa menyimpulkan beberapa hal yang kami pandang penting untuk meluruskan kesalahpahaman kami selama ini soal orang Barbar. Pertama, Barbar bukanlah manusia kelas kedua. Mereka adalah manusia sejati dan bermartabat sama dengan manusia dari belahan bumi yang lain. Kedua, penamaan dan konstruk yang melahirkan stereotipe yang salah tentang “Barbarianism” yang selama ini kita kenal mengindikasikan adanya bias kolonialisme yang sangat kental. Untuk itu, diperlukan penelitian dan kajian lebih lanjut seputar hal ini. Ketiga, sebagai sebuah rumpun atau suku bangsa, Barbar memiliki karakteristik, keistimewaan dan kelemahan yang bisa kita telusuri dari perkembangan masyarakatnya yang merentang selama berabad-abad. Kemudian kita bisa mengkomparasikannya dengan etnis atau suku bangsa Timur Tengah yang lain, yang merupakan salah satu objek kajian mata kuliah ini. Dengan itu, kita bisa berharap memiliki gambaran yang utuh tentang sosiologi masyarakat Timur Tengah.



DINASTI FATIMIYAH BARBAR TUNISIA,AFRIKA

Loyalitas terhadap Ali bin Abi Thalib adalah isu terpenting bagi komunitas Syi’ah untuk mengembangkan konsep Islamnya, melebihi isu hukum dan mistisme. Pada abad ke- VII dan ke- VIII M, isu tersebut mengarah kepada gerakan politis dalam bentuk perlawanan kepada Khalifah Umaiyah dan Khilafah Abbasiyah. Meski Khilafah Abbasiyah mampu berkuasa dalam tempo yang begitu lama, akan tetapi periode keemasannya hanya berlansung singkat. Puncak kemerosotan kekuasaan khalifah-khalifah Abbasiyah ditandai dengan berdirinya khilafah-khilafah kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan politik Khalifah Abbasiyah.
Khilafah-khilafah yang memisahkan diri itu salah satu diantaranya adalah Fatimiyah yang berasal dari golongan Syi’ah sekte Ismailiyah, yakni sebuah aliran sekte di Syi’ah yang lahir akibat perselisihan tentang pengganti imam Ja’far al-Shadiq yang hidup antara tahun 700-756 M. Fatimiyah hadir sebagai tandingan bagi penguasa Abbasiyah yang berpusat di Baghdad yang tidak mengakui kekhalifahan Fatimiyah sebagai keturunan Rasulullah dari Fatimah. Karena mereka menganggap bahwa merekalah ahlul bait sesungguhnya dari Bani Abbas.
Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan membahas tentang pusat peradaban Islam di mesir dengan penglima perang dinasti Fatimiyah. Diantaranya :
·         Awal Pembentukan dan Perkembangan Dinasti Fatimiyah
·         Khalifah Daulah Fatimiyah
·         Masa Kemajuan dan Kontribusi Dinasti Fatimiyah Terhadap Peradaban Islam
·         Masa Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Fatimiyah
.
2.     PEMBAHASAN
A.    Awal Pembentukan dan Perkembangan Dinasti Fatimiyah
Dr. Aiman Fuad Rasyid dalam bukunya Daulah Fatimiyah fil Misr mengatakan, setelah meninggalnya Imam Ja’far As-Shadiq, anggota sekte Syiah Ismailiyah berselisih pendapat mengenai sosok pengganti sang imam. Ismail, putra Ja’far yang ditunjuk secara nash sebagai penggantinya, telah meninggal terlebih dahulu pada saat bapaknya masih hidup. Pada saat yang sama, mayoritas pengikut Ismailiyah menolak penunjukan Muhammad yang merupakan putra Ismail. Padahal, menurut mereka, terdapat sosok Musa Al-Kadzhim yang dinilai lebih pantas memegang tampuk kepemimpinan. Maka berdasarkan kesepakatan, diangkatlah Musa Al-Khazim sebagai imam mereka, manggantikan bapaknya sendiri.[1]
            Sekte Ismailiyah ini pada awalnya tetap tidak jelas keberadaannya, sehingga datanglah Abdullah ibn Maimun yang kemudian memberi bentuk terhadap sistem agama dan politik Ismailiyah ini. Menurut Van Grunibaum, pada tahun 860 M kelompok ini pindah ke daerah Salamiya di Syiria dan disinilah mereka membuat suatu kekuatan dengan membuat pergerakan propagandis dengan tokohnya Said ibn Husein. Mereka secara rahasia menyusup utusan-utusan  keberbagai daerah Muslim, terutama Afrika dan Mesir untuk menyebarkan Ismailiyat kepada rakyat. Dengan cara inilah mereka membuat landasan pertama bagi munculnya Dinasti Fatimiyah di Afrika dan Mesir.[2]
            Pada tahun 874 M muncullah seorang pendukung kuat dari Yaman bernama Abu Abdullah al-Husein yang kemudian menyatakan dirinya sebagai pelopor al mahdi. Abdullah al-Husein kemudian pergi ke Afrika Utara, dan karena pidatonya yang sangat baik  dan berapi-api ia berhasil mendapatkan dukungan dari suku Barbar Ketama. Selain itu, ia mendapat dukungan dari seorang Gubernur Ifrikiyah yang bernama Zirid. Philip K Haiti menyebutkan bahwa setelah mendapatkan kekuatan yang diandalkan ia menulis surat kepada Imam Ismailiyat (Said ibn Husein) untuk datang ke Afrika Utara, kemudian Said diangkat menjadi pemimpin pergerakan[3]. Pada tahun 909 M, Said berhasil mengusir Ziadatullah seorang penguasa  Aghlabid terakhir untuk keluar dari negrinya. Kemudian, Said diproklamasikan menjadi imam pertama dengan gelar Ubaidillah al-Mahdi. Dengan demikian berdirilah pemerintahan Fatimiyah pertama di Afrika dan al Mahdi menjadi khalifah pertama dari dinasti Fatimiyah yang bertempat di Raqpodah daerah al-Qayrawan.
            Pada tahun 914 M mereka bergerak kearah Timur dan berhasil menaklukkan Alexanderia, menguasai Syiria, Malta, Sardinia, Cosrica, pulau Betrix dan pulau lainnya. Selanjutnya pada tahun 920 M ia mendirikan kota baru di pantai Tusinia yang kemudian diberi nama al-Mahdi. Pada tahun 934 M, al-Mahdi wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Abu al-Qosim dengan gelar al-Qoim (934 M/ 323 H). Pada tahun 934 M al-Qoim mampu menaklukkan Genoa dan wilayah sepanjang Calabria. Pada waktu yang sama ia mengirim pasukan ke  Mesir tetapi tidak berhasil karena sering dijegal oleh Abu Yazid Makad, seorang khawarij di Mesir. Al-Qoim meninggal, kemudian digantikan oleh anaknya al-Mansur yang berhasil menumpas pemberontakan Abu Yazid Makad.[4]
            Pada tahun 945 M bani Fatimiyah sudah berhasil memantapkan diri di Tunisia dan menguasai beberapa daerah sekelilingnya dan Sisilia. Kemajuan-kemajuan yang paling penting terjadi selama pemerintahan al-Muiz adalah ia mempunyai seorang Jendral yang cemerlang yaitu Jauhar. Dalam bagian awal pemerintahan, Jauhar memimpin suatu pasukan penakluk ke atlentik, dan keunggulan Fatimiyah ditegakkan atas seluruh Afrika Utara. Kemudian al-Muiz mengalihkan perhatiannya ke Timur. Jelas tersirat dalam pendirian bani Fatimiyah bahwa mereka harus mencoba untuk menguasai pusat dunia Islam dan dua pendahulunya telah melakukan perjalanan penaklukan yang tidak berhasil terhadap Mesir. Sekarang, persiapan-persiapan cermat termasuk propaganda politis (yang dibantu oleh bencana kelaparan hebat di Mesir). Jauhar menerobos Kairo Lama (al-Fustat) tanpa  mengalami  kesulitan yang berarti dia bisa menguasai negara ini. Seorang pangeran Ikhshidiyah secara resmi masih berkuasa, tetapi rezim Ikhshidiyah sudah tidak berfungsi lagi dan tidak memberikan perlawanan pada Jauhar. Nama khalifah Abbasiyah serta merta dihilangkan dari do’a ibadah Jum’at, walaupun cara-cara ibadah Ismailiyah hanya dimasukkan secara bertahap. Jauhar segera mulai membangun sebuah kota baru bagi tentaranya yang diberi nama al-Qahirah yang berarti kota kemenangan atau disebut juga dengan Kairo. Pada tahun 973 M kota Kairo menjadi kediaman imam atau khalifah Fatimiyah dan pusat pemerintahan.[5]
B.     Khalifah Daulah Fatimiyah
Khalifah-khalifah daulah Fatimiyah secara keseluruhan ada empat belas orang
1. Abu Muhammad Abdullah (Ubaydillah) al-Mahdi billah (909 M - 934 M).
2. Abul-Qasim Muhammad al-Qa'im bi-Amr Allah bin al-Mahdi Ubaidillah    (934 M -  946 M).
3. Abu Zahir Isma'il al-Mansur billah (946 M – 953 M).
4. Abu Tamim Ma'ad al-Mu'izz li-Dinillah (953 M – 975 M).
5. Abu Mansur Nizar al-'Aziz billah (975 M – 996 M).
6. Abu 'Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amrullah (996 M- 1021 M).
7. Abu'l-Hasan 'Ali al-Zahir li-I'zaz Dinillah (1021 M - 1036M).
8. Abu Tamim Ma'add al-Mustansir bi-llah (1036 M – 1094 M)
9. Al-Musta'li bi-llah (1094 M – 1101 M).
10. Al-Amir bi-Ahkamullah (1101 M -1130 M).
11. 'Abd al-Majid al-Hafiz (1130 M -1149 M).
12. al-Zafir (1149 M – 1154 M).
13. al-Fa'iz (1154 M - 1160 M).
14. al-'Adid (1160 M – 1171 M).
Pekerjaan Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan umat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah putri Rasul dan istri dari Ali ibn Abi Thalib. Tugas yang selanjutnya diperankan oleh Muiz yang mempunyai seorang Jendral bernama Jauhar Sicily yang dikirim untuk menguasai Mesir sebagai pusat dunia Islam zaman itu. Berkat perjuangan Jendral Jauhar, Mesir dapat direbut dalam masa yang pendek. Tugas utamanya adalah:
a.    Mendirikan Ibu Kota baru yaitu Kairo
b.   Membina suatu Universitas Islam yaitu al-Azhar
c.    Menyebarluaskan Ideologi Fatimiyah yaitu Syi’ah, ke Palestina, Syiria dan Hijaz.[6]
Setelah itu baru khalifah Muiz datang ke Mesir tahun 362 H/973 M memasuki kota Iskandariyah, kemudian menuju Kairo dan memasuki kota yang baru. Tiga tahun kemudian Muiz meninggal dunia dan digantikan oleh Aziz. Sesudah itu digantikan oleh al-Hakim yang melanjutkan pembangunan daulah Fatimiyah. Hakim memerintah selama 25 tahun, jasanya yang besar adalah mendirikan Darul Hikmah[7] yang berfungsi sebagai akademi yang sejajar dengan lembaga di Cordova dan Bagdad. Dilengkapi dengan perpustakaan yang bermana Dar al-Ulum yang diisi dengan bermacam-macam buku dengan berbagai ilmu.
C.    Masa Kemajuan dan Kontribusi Dinasti Fatimiyah Terhadap Peradaban Islam
Sumbangan Dinasti Fatimiyah terhadap peradaban Islam sangat besar sekali, baik dalam sistim pemerintahan maupun dalam bidang keilmuan. Kemajuan yang terlihat pada masa kekhalifahan al-Aziz yang bijaksana diantaranya sebagai berkut:
a.   Bidang Politik dan Pemerintahan
Pada masa pemerintahan Fatimiyah, kepada Negara dipimpin oleh seorang imam atau khalifah, para imam bagi fatimi memang sesuatu yang diwajibkan, ini merupakan penerapan kekuasaan yang turun temurun, mulai dari Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, kemudian selanjutnya di teruskan oleh para imam. Imamah ini diwariskan dari seorang bapak kepada anak laki-laki yang paling tua dari keturunan mereka. Dan menjadi syarat penting yang harus dipenuhi dalam pengangkatan seorang imam adalah adanya nash atau wasiat khusus dari imam sebelumnya.[8] Baik wasiat yang di kemukakan di hadapan umat islam secara umum, atau hanya diketahui oleh orang-orang tertentu sebagian dari mereka saja.
Para imam didinasti fatimiyah, mereka anggap sebagai penjelmaan Allah di bumi, meraka menjadikan Imam-imam sebagai tempat rujukan utama dalam syariat, dan orang paling dalam ilmunya.
Selanjutnya dari segi politik juga daulat fatimiyah membentuk wazir-wazir (wazir tanfiz dan wazir tafwid). Wazir ini dibentuk pada masa Aziz billah  pada bulan Ramadhan tahun 367H/979 M.[9]
Disamping itu daulat fatimiyah juga membentuk dewan-dewan dalam pemerintahannya diantaranya, dewan majlis , dewan nazar, dewan tahkik (sekretaris) dewan barid (pos), dewan tartib (keamanan), dewan kharraj (pajak) dan lain-lainnya.[10]
Bentuk pemerintahan pada masa Fatimiyah merupakan suatu bentuk pemerintahan yang dianggap sebagai pola baru dalam sejarah Mesir. Dalam pelaksanaannya Khalifah adalah kepala yang bersifat temporal dan spiritual. Pengakatan dan pemecatan penjabat tinggi berada di bawah kontrol kekuasaan Khalifah.
Mentri-mentri Wazir kekhalifahan dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok Militer dan Sipil. Yang dibidangi oleh kelompok Militer diantaranya: urusan tentara, perang, pengawal rumah tangga khalifah dan semua permasalahan yang menyangkut keamanan. Yang termasuk kelompok Sipil diantaranya:
a.       Qadi, yang berfungsi sebagai hakim dan direktur percetakan uang
b.      Ketua dakwah, yang memimpin Darul Hikmah
c.       Inspektur pasar, yang membidangi bazar, jalan dan pengawasan timbangan
d.      Bendaharawan Negara, yang membidangi Baitul Mal
e.       Wakil kepala urusan rumah tangga Khalifah
f.       Qori, yang membaca al-Qur’an bagi Khalifah kapan saja dibutuhkan.
Selain dari penjabat di istana ini ada beberapa pejabat lokal yang diangkat oleh Khalifah untuk mengelola bagian wilayah Mesir, Siria, dan Asia kecil. Ketentaraan dibagi ke dalam tiga kelompok:
1.      Amir-amir yang berdiri dari pejabat-pejabat tinggi dan pengawal Khalifah
2.      Para Obsir Jaga
3.      Resimen yang bertugas sebagai Hafizah Juyudsiah dan Sudaniyah.
b.   Pemikiran dan Filsafat
Dalam menyebarkan tentang kesyi’ahannya Dinasti Fatimiyah banyak menggunakan filsafat Yunani yang mereka kembangkan dari pendapat-pendapat Plato, Aristoteles dan ahli-ahli filsafat lainnya.[11] Kelompok ahli filsafat yang paling terkenal pada Dinasti Fatimiyah adalah ikhwanu shofa. Dalam filsafatnya kelompok ini lebih cendrung membela kelompok Syi’ah Islamiyah, dan kelompok inilah yang menyempurnakan pemikiran-pemikiran yang telah dikembangkan oleh golongan Mu’tazilah.
Beberapa tokoh filsuf yang muncul pada masa Dinasti Fatimiyah ini adalah:
1.      Abu Hatim Ar-Rozi, dia adalah seorang da’i Ismaliyat yang pemikirannya lebih banyak dalam masalah politik, Abu Hatim menulis beberapa buku dia ntaranya kitab Azzayinah yang terdiri dari 1200 halaman. Di dalamnya banyak membahas masalah Fiqh, filsafat dan aliran-aliran dalam agama.
2.      Abu Abdillah An-Nasafi, dia adalah seorang penulis kitab Almashul. Kitab ini lebih banyak membahas masalah al-Ushul al-Mazhab al-Ismaily. Selanjutnya ia menulis kitab Unwanuddin Ushulus syar’i, Adda’watu Manjiyyah. Kemudian ia menulis buku tentang falak dan sifat alam dengan judul Kaunul Alam dan al-Kaunul Mujrof .
3.      Abu Ya’qup as Sajazi, ia merupakan salah seorang penulis yang paling banyak tulisannya
4.      Abu Hanifah An-Nu’man Al-Magribi
5.      Ja’far Ibnu Mansyur Al-Yamani
6.      Hamiduddin Al-Qirmani.[12]
c.    Pendidikan dan Iptek
Seorang ilmuan yang paling terkenal pada masa Fatimiyah adalah Yakub Ibnu Killis. Ia berhasil membangun akademi-akademi keilmuan yang mengahabiskan ribuan Dinar perbulannya. Pada masanya, ia berhasil membesarkan seorang ahli fisika yang bernama Muhammad Attamimi. Disamping Attamimi ada juga seorang ahli sejarah yang bernama Muhammad Ibnu Yusuf Al Kindi dan Ibnu Salamah Al Quda’i. seorang ahli sastra yang muncul pada masa Fatimiyah adalah Al Aziz yang berhasil membangun masjid Al Azhar.[13]
Kemajuan keilmuan yang peling fundamental pada masa Fatamiyah adalah keberhasilannya membangun sebuah lembaga keilmuan yang disebut Darul Hikam atau Darul Ilmi yang dibangun oleh Al Hakim pada tahun 1005 Masehi.
Ilmu astronomi banyak dikembangkan oleh seorang astronomis yaitu Ali Ibnu Yunus kemudian Ali Al Hasan dan Ibnu Haitam. Dalam masa ini kurang lebih seratus karyanya tentang matematika, astronomi, filsafat dan kedokteran telah dihasilkan.
Pada masa pemerintahan Al Hakim didirikan Bait Al Hikmah, terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh Al Makmun di Bahgdad. Pada masa Al Muntasir terdapat perpustakaan yang di dalamnya berisi 200.000 buku dan 2.400 Illuminated Al-Qur’an  ini merupakan bukti kontribusi Dinasti Fatimiyah bagi perkembangan budaya Islam.
d.   Ekonomi dan Perdagangan
Mesir mengalami kemakmuran ekonomi dan fitalitas kultural yang mengungguli Irak dan daerah-daerah lainnya. Hubungan dagang dengan dunia non Islam dibina dengan baik termasuk dengan India dan negeri-negeri mediterania yang beragama Kristen.
Pada suatu festival, Khalifah kelihatan sangat cerah dan berpakaian indah. Istana Khalifah yang dihuni oleh 30.000 orang terdiri dari 1.200 pelayan dan pengawal juga terdapat masjid-masjid, perguruan tinggi, rumah sakit dan pemondokan Khalifah yang berukuran sangat besar menghiasi kota Kairo baru. Pemandian umum yang dibangun dengan baik terlibat sangat banyak disetiap tempat di kota itu. Pasar yang mempunyai 20.000 toko luar biasa besarnya dan dipenuhi berbagai produk dari seluruh dunia. Keadaan ini menunjukkan bahwa kemakmuran yang begitu berlimpah dan kemajuan ekonomi yang begitu hebat pada masa Fatimiyah di Mesir.
 Disegi pertanian Dinasti Fatimiyah juga mengalami peningkatan, keberhasilan pertanian di mesir pada masa ini bisa di kelompokkan kepada dua sektor  
1.      Daerah pinggiran-pinggiran sungai Nil
2.      Tempat-tempat yang telah ditentukan pemerintah untuk dijadikan lahan pertanian.
Sungai Nil merupakan sebagian pendukung bagi kelansungan hidup orang-orang Mesir, kadang-kadang sungai nil ini menuai penyusutan air sehingga masyarakat merasa kesulitan untuk mengambil air untuk diminum, untuk binatang ternak, maupun untuk pengairan tanam-tanaman mereka, namun sebaliknya adakalanya sungai nil ini pasang naik, sehingga dataran-dataran Mesir kebanjiran, menyebabkan kerusakan lahan dan tanaman. Untuk mengatasi hal tersebut mereka membikin gundukan-gundukan dari tanah dan batu sebatas tinggi air takkala banjir.[14]
Mereka membagi waktu untuk bercocok tanam dalam dua musim :
1.      Musim dingin, (bulan Desember sampai bulan maret) dengan aliran-aliran dari selokan sungai nil, pada musim ini mereka biasa menanam gandum, kapas, pohon rami.
2.      Musim panas, (bulan april sampai bulan juli) karena air sungai nil mulai surut, maka mereka mengairi sawah ladang dengan mengangkat air dengan alat. Pada musim ini mereka menanam padi, tebu, semangka, anggur, jeruk, dan lain-lain.[15]
Dibidang perdagangan mereka melakukan perdagangan dengan mengunjungi beberapa daerah seperti Asia, Eropa, dan daerah-daerah sekitar laut tengah.
Pada masa dinasti Fatimiyah mereka menjadikan kota Fustat sebagai kota perdagangan, dari sini semua barang akan dikirim baik dari dalam maupun dari luar Mesir.
e. Sosial Kemasyarakatan
Pada waktu orang-orang Fatimiyah memasuki Mesir, penduduk setempat ada yang beragama Kristen Qibty, dan ahlu sunnah. Mereka hidup dalam kedamaian, saling menghormati antara satu dengan yang lain. Boleh dikatakan tidak terjadi pertengkaran antara suku, maupun agama. Masyarakatnya mempunyai sosialitas yang tinggi sesama mereka.
f. Pemahaman Agama
Sesuai dengan asal usul dinasti Fatimiyah ini adalah sebuah gerakan yang berasal dari sekte syi’ah Ismailiyah, maka secara tidak lansung dinasti ini sebenarnya ingin mengembangkan doktrin-doktrin syi’ah di tengah-tengah masyarakat, namun dengan berbagai pertimbangan mereka tidak terlalu memaksa pemahaman ini harus di ikuti oleh para penduduk, mereka bebas beragama  sesuai dengan apa yang mereka yakini. Hal ini dilakukan supaya mereka selalu mendapat dukungan dari rakyat demi berdirinya dinasti Fatimiyah di negeri para Nabi ini.
D.    Masa Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Fatimiyah
Kemunduran Dinasti Fatimiyah berawal pada pemerintahan Khalifah al-Hakim. Ketika diangkat menjadi khalifah ia baru berumur 11 tahun. Al-Hakim memerintah dengan tangan besi, masanya dipenuhi dengan tindak kekerasan dan kekejaman. Ia membunuh beberapa orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja Kristen, termasuk sebuah gereja yang didalamnya terdapat kuburan suci umat Kristen. Maklumat penghancuran kuburan suci ini ditandatangani oleh sekretarisnya yang beragama Kristen, Ibn Abdun. Peristiwa ini merupakan salah satu penyebab terjadinya perang salib. Ia memaksa umat Kristen dan Yahudi memakai jubah hitam, dan mereka hanya diperbolehkan menunggangi keledai. Orang-orang Yahudi dan Nasrani dibunuh dan aturan-aturan tidak ditegakkan dengan konsisten. Ia juga dengan mudah membunuh orang yang tidak disukainya, bahkan pernah membakar sebuah desa tanpa alasan yang jelas. Kemudian pada tahun 381 H/991 M ia menyerang Aleppo dan berhasil merebut Homz dan Syaizar dari tangan penguasa Arab. Peristiwa ini menimbulkan sikap oposan dari penduduk dan menyeret Dinasti Fatimiyah dalam konflik dengan Bizantium. Walaupun pada akhirnya al-Hakim berhasil mengadakan perjanjian damai dengan Bizantium selama sepuluh tahun.
            Al-Hakim kemudian memilih mengikuti perkembangan ekstrem ajaran Ismailiyah, dan menyatakan dirinya sebagai penjelmaan Tuhan. Ia meninggalkan istana dan berkelana hingga akhirnya terbunuh di Muqatam pada 13 Pebruari 1021. Kemungkinan ia dibunuh oleh persekongkolan yang dipimpin adik perempuannya, Siti al-Muluk, yang telah diperhentikan tidak hormat olehnya.
Al-Hakim kemudian digantikan oleh az-Zahir, anaknya sendiri. Ketika diangkat menjadi khalifah ia baru berusia 16 tahun. Pada mulanya Dinasti Fatimiyah didirikan oleh bangsa Arab dan orang Barbar, tapi ketika masa Az-Zahir situasi berubah, khalifah lebih mendekati keturunan Turki dan suku Barbar di dalam pemerintahan Fatimiyah. Az-Zahir mendapat izin dari Konsantin ke VII agar namanya disebutkan dimesjid-mesjid yang berada di bawah kekuasaan sang kaisar. Ia juga mendapat izin untuk memperbaiki mesjid yang berada di konstantinopel. Ini semua sebagai balasan terhadap restu sang khalifah untuk membangun kembali gereja yang di dalamnya terdapat  kuburan suci, dimana dulu gereja ini dihancurkan oleh Al-Hakim.
             Setelah sepeninggal Az-Zahir kemudian digantikan oleh anaknya sendiri yang baru berusia 11 tahun, yaitu al-Mustanshir. Mulai masa ini system pemerintahan Dinasti Fatimiyah berobah menjadi parlementer, artinya khalifah hanya berfungsi sebagai symbol saja, sementara pemegang kekuasaan pemerintahan adalah para mentri. Oleh karena itulah masa ini disebut “ahdu nufuzil wazara” (masa pengaruh mentri-mentri). Al-Mustanshir sebagaimana juga az-Zahir lebih mendekati keturunan Turki, hingga muncul dua kekuatan besar yaitu Turki dan Barbar. Perang saudarapun tidak dapat dielakan. Setelah meminta bantuan Badrul Jamal dari Suriah, khalifah dan orang Turki dapat mengalahkan Barbar, dan berakhirlah kekuasaan orang Barbar di dalam Dinasti Fatimiyah.
Pada masa al-Mustanshir ini kekuasaan Dinasti Fatimiyah di wilayah Suriah mulai terkoyak dengan cepat. Sementara kekuatan besar yang datang dari timur, yaitu bani Saljuk dari Turki, juga membayang-bayangi. Pada waktu yang bersamaan propinsi-propinsi Fatimiyah di Afrika memutuskan hubungan dengan pusat kekuasaan, bermaksud memerdekakan diri dan kembali kepada sekutu lama mereka, Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1052, suku arab yang terdiri dari bani Hilal dan bani Sulaim yang mendiami dataran tinggi Mesir memberontak. Mereka bergerak kebagian barat dan berhasil menduduki Tropoli dan Tunisia selama beberapa tahun.
Sementara itu pada tahun 1071, sebagian besar wilayah Sisilia, yang mengakui kedaulatan Fatimiyah dikuasai oleh bangsa Normandia yang daerah kekuasaannya terus meluas hingga meliputi sebagian pedalaman Afrika. Hanya kewasan semenanjung arab yang mengakui kekuasaan Fatimiyah.
Az-Zahir kemudian digantikan oleh al-Mustansir. Di masa ini terjadi kekacauan dimana-mana. Kericuhan dan pertikaian terjadi antara orang-orang Turki, suku Barbar dan pasukan Sudan. Kekuasaan negara lumpuh dan kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun telah melumpuhkan perekonomian Negara. Di tengah kekacauan itu, pada tahun 1073 khalifah memanggil Badr al-Jamali, orang Armenia bekas budak dari kegurbernuran Akka dan memberinya wewenang untuk bertindak sebagai wazir dan panglima tertinggi. Amir al Juyusi (komando perang) yang baru ini mengambil komando dengan seluruh kekuatan yang ia punya untuk memadamkan berbagai kekacauan dan memberikan nyawa baru pada pemerintahan Fatimiyah. Tapi usaha ini, yang juga diteruskan oleh anak dan penerus al-Mustansir yaitu Al-Afdhal, tidak dapat menahan kemunduran Dinasti ini.
Tahun-tahun terakhir dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah ditandai dengan munculnya perseteruan yang terus menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya masing-masing. Setelah al-Mustansir wafat, terjadi perpecahan serius dalam tubuh Ismailiyah. Perpecahan itu terjadi antara dua kelompok yang berada dibelakang kedua anak al-Mustansir yaitu Nizar dan al-Musta’li. Pendukung Nizar lebih aktif, ekstrim dan menjadi gerakan pembunuh. Sedangkan pendukung al-Musta’li lebih moderat. Akhirnya yang terpilih menjadi khalifah adalah al-Musta’li dengan ia didukung oleh al-Afdhal. Al-Afdhal mendukung al-Musta’li dengan harapan ia akan memerintah dibawah pengaruhnya. Akan tetapi basis spiritual Ismailiyah menjadi runtuh. Setelah al-Musta’li wafat. Al-Amin anak al-musta’li yang baru berusia lima tahun diangkat menjadi khalifah.
Al-Amin kemudian digantikan oleh al-Hafidz. Karena ia meninggal kekuasaannya benar-benar hanya sebatas istana kekhalifahan saja. Anak dan penggantinya, az-Zafir diangkat menjadi khalifah dalam usia yang masih sangat muda, hingga merasa tidak mampu menghadapi tentara salib, khalifah az-Zafir melalui wazirnya Ibnu Salar, meminta bantuan kepada Nuruddin az-Zanki, penguasa Suriah di bawah kekuasaan Baghdad. Nuruddin mengirim pasukan ke Mesir di bawah panglima Syirkuh dan Salahuddin Yusuf bin al-Ayubi yang kemudian berhasil membendung invasi tertara salib ke Mesir. Kemudian kekuasaan az-Zafir direbut oleh wazirnya, Ibnu Sallar. Tapi Ibnu Salar kemudian dibunuh, dan az-Zafir juga terbunuh secara misterius, kemudian naiklah al-Faiz, anak az-Zafir yang baru berusia empat tahun sebagai khalifah. Khalifah kecil ini meninggal dalam usia 11 tahun dan digantikan oleh sepupunya al-Adhid yang baru berumur sembilan tahun. Maka pada tahun 1167 M pasukan Nuruddin az-Zanki untuk kedua kalinya kembali memasuki Mesir di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin. Kedatangan mereka kali ini tidak hanya membantu melawan kaum salib, tetapi juga untuk menguasai Mesir. Dari pada Mesir dikuasai tentara salib, lebih baik mereka sendiri yang menguasainya. Apalagi perdana mentri Mesir waktu itu, telah melakukan penghianatan. Akhirnya pasukan Nuruddin berhasil mengalahkan tentara salib dan menguasai Mesir.
Semenjak itulah kedudukan Salahuddin di Mesir semakin mantap. Apalagi ia mendapat dukungan dari masyarakat yang mayoritas sunni. Peristiwa ini menyebabkan menguatnya pengaruh Nuruddin az-Zanki dan panglimanya Salahuddin al-Ayubi. Puncaknya terjadi pada masa al-Adid, pada masa pemerintahannya Salahuddin telah menduduki jabatan wazir. Dengan kekuasaannya Salahuddin al-Ayubi mengadakan pertemuan dengan para pembesar untuk menyelenggarakan  khutbah dengan menyebut nama khalifah Abasiyyah, al-Mustadi. Ini adalah simbol dari runtuhnya dan berakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah  untuk kemudian digantikan oleh Dinasti Ayubiyah.[16]
E.     Penutup
Dari uraian diatas kita bisa mengambil beberapa intisari yang sangat menakjubkan, betapa keberadaan dinasty Fatimiyah ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan peradaban Islam, mulai dari bidang politik pemerintahan, pemikiran dan filsafat, pendidikan dan iptek, ekonomi dan perdagangan, sosial kemasyarakatan, pemahaman agama dan lain-lain.
Akan tetapi penulis sangat memahari, dengan minimnya literatur yang penulis baca, maka makalah ini jauh dari sempurna. Maka demi kesempurnaan makalah ini, penulis sangat mengharapkan partisipasinya demi kesempurnaan makalah dimasa mendatang. Sekian saja terima kasih.


[1] Dr. Aiman Fuad Sayyid. Daulat Fatimiyah Fi Misr Tafsir Jadid. Dar El-Masriyah lil-Bananiyah. 1992. h. 30
[2] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, ( Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoave, 1994 ), h 245.
[3] Philip K. Haiti, History of The Arab, (London: The Macmilland Press Ltd, 1974). h. 618.
[4]Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004), h. 113
[5] W.Montgomery Watt, penterjemah Hartono Hadikusumo, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), h. 216
[6] Zainal Abidin Ahmad, Sejarah Islam dan Ummatnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 109
[7]Ibid, h. 109
[8] Dr. Aiman Fuad  Sayyid. op. cit  h 249
[9] Ibid
[10] Ibid
[11] Ahmad Amin, Dhuhal al-Islam, (Kairo: Lajnah Ta’wa al  Nasyr), h. 188
[12] Hasan Ibrahim, Tarikh al-Daulah al-Fatimiah, (Kairo: Jannatut Ta’lif, 1958), h. 469
[13] Ajid Thohir, op.cit.,h. 117
[14] Dr. Aiman Fuad Sayyid. op. cit. h 293
[15] Ibid
[16] Ibid