Rabu, 09 September 2015

mukadimah ; Islam mengajarkan kita hidup sederhana

Islam mengajarkan kita hidup sederhana, karena mengandung hikmah antara lain: Pertama, hidup sederhana akan membawa kita kepada kehidupan yang tenang dan harmonis, sebab dalam tuntunan hidup sederhana, kita dianjurkan untuk berbelanja sesuai kemampuan atau penghasilan hidup kita, tidak besar pasak daripada tiang, tidak harus mengada-adakan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita. Karena memaksakan belanja yang kita tidak mampu membelinya, akan mengakibatkan penyesalan, kerugian dan lilitan utang. Dan sebaiknya dengan membiasakan berbelanja sesuai batas kemampuan dan sesuai keperluan, akan menjadikan hidup tenang dan tidak risau oleh lilitan utang.
Kedua, hidup sederhana, akan menghindarkan kita dari sikap hidup yang boros dan berlebih-lebihan, sebab hidup boros dan berlebihan itu mengakibatkan harta menjadi terbuang-buang (mubadzir) dan tersalurkan kepada sesuatu yang tidak semestinya, sehingga pada akhirnya akan membawa kepada kerugian dan penyesalan. Pola hidup yang sederhana akan menjadikan harta kita bermanfaat dan tersalurkan sesuai dengan haknya secara baik dan benar, dan kelak kita akan beruntung dan berbahagia. Dan lain-lain. 
Keinginan hidup mewah bukan hanya tampak di kalangan berada, melainkan juga di kalangan golongan yang secara ekonomis pas-pasan dan kurang mampu. Betapa seorang pedagang kecil yang hanya bisa hidup pas-pasan bersama keluarganya, telah menjual sisa barang warisan orang tuanya, untuk membiaya keperluan menunaikan ibadah haji. Dia berpikir tanpa pernah berhaji ke tanah suci, tidak akan terpandang di masyarakat sekitarnya. Kasus seperti di atas sekedar contoh, tentu tidak semua orang dalam kasus seperti itu berniat riya, namun jika setelah kembali dari beribadah haji dengan memaksakan menjual tanah / sawah / ladang, kemudian hidup dalam kondisi ekonomi yang lebih buruk, maka cara hidup demikian bukanlah yang diajarkan Islam. Kemewahan bukan sekedar pamer materi, melainkan manipulasi suatu keinginan yang menjadi keharusan demi kepuasan.
Maka hidup seperti itu termasuk kemewahan, mengingat untuk pergi haji memerlukan banyak biaya. Bukankah Islam mengajarkan bagi mereka yang secara ekonomis belum atau tidak mampu, maka dengan niat saja sudah bisa bermakna haji? Mengapa harus melihat ke arah orang lain yang lebih mampu dan bukannya ke arah yang kurang mampu daripada dirinya sendiri? Cara hidup demikian berarti belum menerapkan ajaran Islam secara proporsional dalam hal keseimbangan hidup duniawi dan ukhrawi.

Tidak ada komentar: