Islam mengajarkan kita
hidup sederhana, karena mengandung hikmah antara lain: Pertama,
hidup sederhana akan membawa kita kepada kehidupan yang tenang dan harmonis,
sebab dalam tuntunan hidup sederhana, kita dianjurkan untuk berbelanja sesuai
kemampuan atau penghasilan hidup kita, tidak besar pasak daripada tiang, tidak
harus mengada-adakan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita. Karena
memaksakan belanja yang kita tidak mampu membelinya, akan mengakibatkan
penyesalan, kerugian dan lilitan utang. Dan sebaiknya dengan membiasakan
berbelanja sesuai batas kemampuan dan sesuai keperluan, akan menjadikan hidup
tenang dan tidak risau oleh lilitan utang.
Kedua, hidup sederhana, akan
menghindarkan kita dari sikap hidup yang boros dan berlebih-lebihan, sebab
hidup boros dan berlebihan itu mengakibatkan harta menjadi terbuang-buang (mubadzir)
dan tersalurkan kepada sesuatu yang tidak semestinya, sehingga pada akhirnya
akan membawa kepada kerugian dan penyesalan. Pola hidup yang sederhana akan
menjadikan harta kita bermanfaat dan tersalurkan sesuai dengan haknya secara
baik dan benar, dan kelak kita akan beruntung dan berbahagia. Dan
lain-lain.
Keinginan hidup mewah
bukan hanya tampak di kalangan berada, melainkan juga di kalangan golongan yang
secara ekonomis pas-pasan dan kurang mampu. Betapa seorang pedagang kecil yang
hanya bisa hidup pas-pasan bersama keluarganya, telah menjual sisa barang
warisan orang tuanya, untuk membiaya keperluan menunaikan ibadah haji. Dia
berpikir tanpa pernah berhaji ke tanah suci, tidak akan terpandang di
masyarakat sekitarnya. Kasus seperti di atas sekedar contoh, tentu tidak semua
orang dalam kasus seperti itu berniat riya, namun jika setelah kembali
dari beribadah haji dengan memaksakan menjual tanah / sawah / ladang, kemudian
hidup dalam kondisi ekonomi yang lebih buruk, maka cara hidup demikian bukanlah
yang diajarkan Islam. Kemewahan bukan sekedar pamer materi, melainkan
manipulasi suatu keinginan yang menjadi keharusan demi kepuasan.
Maka hidup seperti itu
termasuk kemewahan, mengingat untuk pergi haji memerlukan banyak biaya.
Bukankah Islam mengajarkan bagi mereka yang secara ekonomis belum atau tidak
mampu, maka dengan niat saja sudah bisa bermakna haji? Mengapa harus melihat ke
arah orang lain yang lebih mampu dan bukannya ke arah yang kurang mampu
daripada dirinya sendiri? Cara hidup demikian berarti belum menerapkan ajaran
Islam secara proporsional dalam hal keseimbangan hidup duniawi dan ukhrawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar