Jumat, 02 Oktober 2015
Sekutu Amerika di Di Luar Anggota NATO
- Pakistan
- Arab Saudi
- Kanada
- Chili
- Afganistan (Mujahideen)
- Bolivia
- Venezuela
- Argentina
- Peru
- Meksiko
- Republik Dominika
- Puerto Rico
- El Salvador
- Kosta Rika
- Kolombia
- Ekuador
- Guatemala
- Honduras
- Nikaragua
- Panama
- Paraguay
- Uruguay
- Greenland(saat itu masih koloni Denmark)
- Thailand
- Malaya (Malaysia)
- Jepang
- Korea Selatan
- Bangladesh
- Vietnam Selatan
- Filipina
- Taiwan
- Australia
- Israel
- Selandia Baru
Bukit Mina
Bukit Mina merupakan kawasan perbukitan sepanjang 3,2 km yang terletak
di antara kota suci Mekah dan Muzdalifah. Di Bukit Mina terdapat tiga
buah tugu atau jumrah yang wajib di lempar oleh setiap orang yang
melakukan ibadah haji. Ketiga tugu disebut dengan Jumrah Ula (pertama)
yang disebut juga Jumrah Sugra, Jumrah Wusta (tengah) dan Jumrah Aqabah
(akhir) yang disebut juga jumrah Kubra. Ketiga tugu tersebut merupakan
perwujudan dari iblis yang ingin menggagalkan perintah Allah SWT kepada
Nabi Ibrahim AS untuk mengurbankan putranya, Ismail AS.
Lembar Badar
Lembar Badar, yang terletak di antara Madinah dan Mekah, merupakan suatu
daerah subur yang mempunyai sumber air. Lembar Badar adalah tempat
terjadinya Perang Badar (2 H) antara kaum muslim dan kaum musyrik
Quraisy. Perang Badar disebut sebagai perang akidah karena perang ini
terjadi untuk membela kebenaran tentang ajaran Islam. Dalam pertempuran
ini, kaum muslim mendapat kemenangan besar sehingga perang ini disebut
juga Perang Badar al-Kubra (yang besar)
Masjid Umar bin Khattab(The Dome of the Rock)
Ahnaf bin Qais, seorang prajurit Islam pada masanya, Ahnaf memang masih
sangat belia. Tetapi, Ahnaf salah seorang tokoh dari Bani Tamim yang
sangat dimuliakan kaumnya. Kaum Bani Tamim sangat berjasa dalam
menaklukkan musuh, dan mempunyai prestasi yang cemerlang dalam berbagai
peperangan. Termasuk dalam peperangan besar menaklukan kota Tustur dan
menawan pemimpin mereka, yaitu Hurmuzan.
Humurzan adalah pemimpin Persia paling berani dan kuat serta keras. Hurmuzan juga ahli dalam strategi perang, dan berkali –kali menghkhianati kaum muslimin.
Tatkala dalam posisi terdesak di salah satu bentengnya yang kokoh di Tustur, dia masih bisa bersikap sombong. “Aku punya seratus batang panah. Dan demi Allah, kalian tidak mampu menangkapku sebelum habis panah-panah ini”, ujarnya. Kemudian pasukan Islam bertanya kepadanya : “Apa yang engkau kehendaki?”. “Aku mau diadili dibawah hukum Umar bin Khatthab. Hanya dia yang boleh menghukumku”, ucap Hurmuzan. Pasukan Islam itu menjawab : “Baiklah. Kami setuju”. Lalu, Humurzan meletakkan panahnya ke tanah, sebagai tanda menyerah.

Pasukan Islam yang dipimpin panglima Anas bin Malik dan Ahnaf itu, membawa Humurzan ke Madinah, dan menghadap Amirul Mukminin. Setibanya dipinggiran kota Madinah, mereka menyuruh Humurzan menggunakan pakaian kebesarannya, yang terbuat dari sutera mahal bertabur emas permata dan berlian. Di kepalanya bersemanyam mahkota yang penuh dengan intan berlian yang sangat mahal.
Humurzan langsung dibawa ke rumah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, tetapi beliau tidak ada di rumah. Seseorang berkata, beliau pergi ke masjid. Rombongan itu pergi ke masjid, namun tak terlihat ada didalam masjid. Saat rombongan mondar-mandir mencari Amirul Mukminin, salah seorang penduduk berkata: “Anda mencari Amirul Mukminin?” “Benar, di mana Amirul Mukminin?”, ujarnya mereka. Lalu, seorang anak diantara penduduk itu, menyahut: “Beliau tertidur di samping kanan masjid dengan berbantalkan surbannya”.
Rombongan itu mendapatkan Amirul Mukminin sedang lelap disamping masjid. Tanpa mendapatkan penjagaan. Memang Umar sangat terkenal kezuhudan dan kesederhanaannya. Tetapi, sesungguhnya lelaki yang zuhud dan sederhana ini telah menaklukan Romawi dan raja-raja lain, dan tidur tanpa bantal dan tanpa pengawal.
Kemudian, Humurzan melihat isyarat dari ‘Ahnaf, dan bertanya : “Siapakah orang yang tidur itu?”, tanya Hurmuzan. “Dia Amirul Mukminin Umar bin Khatthab”, jawab Mughirah. Betapa terkejutnya Humurzan, lalu dia berkata : “Umar? Lalu, di mana pengawalnya atau penjaga?”, tambah Hurmuzan. “Beliau tidak memiliki pengawal”, tambah Mughirah. “Kalau begitu, pasti dia nabi”, tambah Hurmuzan. “Tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallam”, tegas Mughirah.

(Ket. Gbr. Masjid Gubbatus Shakra dikenal sebagai Masjid Umar bin Khattab)
Saat Umar terbangun, dan melihat Hurmuzan, dan berkata : “Aku tak sudi berbicara dengannya sebelum kalian melepas pakian kemegahan dan kesombongan itu”, tegas Umar. Mereka melucuti kemewahan pakaian Hurmuzan, kemudian memberikan gamis untuk menutup auratnya. Sesudah itu Umar menjumpainya, dan berkata : “Bagaimana akibat pengkhianatan dan ingkar janjimu itu?”
Dengan menunduk lesu, Hurmuzan serta penuh dengan kehinaan ia berkata : “Wahai Umar, pada masa jahiliyah, ketika antara kalian dengan kami tidak ada Rabb, kami selalu menang atas kalian. Tapi begitu kalian memeluk Islam, Allah menyertai kalian, sehingga kami kalah. Kalian menang atas kami memang, karena hal itu, tetapi juga karena kalian bersatu, sedangkan kami bercerai berai”, ungkap Hurmuzan.
Penguasa yang sudah kalah dan menyerah itu, merasakan kasih dalam Islam, dan akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadah, dan masuk Islam. Inilah kebesaran Islam, yang telah diteladai para pemimpinnya, dan menjalankan Islam dengan sungguhnya. Tidak sedikitpun mereka berkhianat terhadap Islam, sampai akhirnya musuhpun memeluk Islam, karena merasa mendapatkan kemuliaan dalam Islam.
Humurzan adalah pemimpin Persia paling berani dan kuat serta keras. Hurmuzan juga ahli dalam strategi perang, dan berkali –kali menghkhianati kaum muslimin.
Tatkala dalam posisi terdesak di salah satu bentengnya yang kokoh di Tustur, dia masih bisa bersikap sombong. “Aku punya seratus batang panah. Dan demi Allah, kalian tidak mampu menangkapku sebelum habis panah-panah ini”, ujarnya. Kemudian pasukan Islam bertanya kepadanya : “Apa yang engkau kehendaki?”. “Aku mau diadili dibawah hukum Umar bin Khatthab. Hanya dia yang boleh menghukumku”, ucap Hurmuzan. Pasukan Islam itu menjawab : “Baiklah. Kami setuju”. Lalu, Humurzan meletakkan panahnya ke tanah, sebagai tanda menyerah.

Pasukan Islam yang dipimpin panglima Anas bin Malik dan Ahnaf itu, membawa Humurzan ke Madinah, dan menghadap Amirul Mukminin. Setibanya dipinggiran kota Madinah, mereka menyuruh Humurzan menggunakan pakaian kebesarannya, yang terbuat dari sutera mahal bertabur emas permata dan berlian. Di kepalanya bersemanyam mahkota yang penuh dengan intan berlian yang sangat mahal.
Humurzan langsung dibawa ke rumah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, tetapi beliau tidak ada di rumah. Seseorang berkata, beliau pergi ke masjid. Rombongan itu pergi ke masjid, namun tak terlihat ada didalam masjid. Saat rombongan mondar-mandir mencari Amirul Mukminin, salah seorang penduduk berkata: “Anda mencari Amirul Mukminin?” “Benar, di mana Amirul Mukminin?”, ujarnya mereka. Lalu, seorang anak diantara penduduk itu, menyahut: “Beliau tertidur di samping kanan masjid dengan berbantalkan surbannya”.
Rombongan itu mendapatkan Amirul Mukminin sedang lelap disamping masjid. Tanpa mendapatkan penjagaan. Memang Umar sangat terkenal kezuhudan dan kesederhanaannya. Tetapi, sesungguhnya lelaki yang zuhud dan sederhana ini telah menaklukan Romawi dan raja-raja lain, dan tidur tanpa bantal dan tanpa pengawal.
Kemudian, Humurzan melihat isyarat dari ‘Ahnaf, dan bertanya : “Siapakah orang yang tidur itu?”, tanya Hurmuzan. “Dia Amirul Mukminin Umar bin Khatthab”, jawab Mughirah. Betapa terkejutnya Humurzan, lalu dia berkata : “Umar? Lalu, di mana pengawalnya atau penjaga?”, tambah Hurmuzan. “Beliau tidak memiliki pengawal”, tambah Mughirah. “Kalau begitu, pasti dia nabi”, tambah Hurmuzan. “Tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallam”, tegas Mughirah.

(Ket. Gbr. Masjid Gubbatus Shakra dikenal sebagai Masjid Umar bin Khattab)
Saat Umar terbangun, dan melihat Hurmuzan, dan berkata : “Aku tak sudi berbicara dengannya sebelum kalian melepas pakian kemegahan dan kesombongan itu”, tegas Umar. Mereka melucuti kemewahan pakaian Hurmuzan, kemudian memberikan gamis untuk menutup auratnya. Sesudah itu Umar menjumpainya, dan berkata : “Bagaimana akibat pengkhianatan dan ingkar janjimu itu?”
Dengan menunduk lesu, Hurmuzan serta penuh dengan kehinaan ia berkata : “Wahai Umar, pada masa jahiliyah, ketika antara kalian dengan kami tidak ada Rabb, kami selalu menang atas kalian. Tapi begitu kalian memeluk Islam, Allah menyertai kalian, sehingga kami kalah. Kalian menang atas kami memang, karena hal itu, tetapi juga karena kalian bersatu, sedangkan kami bercerai berai”, ungkap Hurmuzan.
Penguasa yang sudah kalah dan menyerah itu, merasakan kasih dalam Islam, dan akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadah, dan masuk Islam. Inilah kebesaran Islam, yang telah diteladai para pemimpinnya, dan menjalankan Islam dengan sungguhnya. Tidak sedikitpun mereka berkhianat terhadap Islam, sampai akhirnya musuhpun memeluk Islam, karena merasa mendapatkan kemuliaan dalam Islam.

Langganan:
Postingan (Atom)











Bukit Safa dan Marwah terletak di sebelah selatan dan utara
Masjidilharam, Mekah. Bukit Safa dan Marwah merupakan tempat Siti Hajar,
istri Nabi Ibrahim AS, mencarikan air untuk anaknya, Ismail AS. Siti
Hajar berlari mendaki Bukit Safa kemudian turun menuju Bukit Marwah
sampai tujuh kali dan akhirnya secara tiba-cita keluarlah air zamzam
dari dalam tanah. Peristiwa ini kemudian diabadikan umat Islam dengan
melakukan sai (lari-lari kecil) pada saat menunaikan ibadah haji.




